Penghargaan untuk Dokter PTT

Saya perwakilan dari dokter pegawai tidak tetap (PTT) pusat yang kini menjalani masa penugasan selama satu tahun di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dengan kriteria terpencil. Pada mulanya kami berlima berangkat pada tanggal 1 April 2008 dari daerah masing-masing dengan satu niat dan harapan besar untuk bisa mendedikasikan ilmu yang diperoleh dan demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan kesempatan untuk mengembangkan diri.

Namun, kenyataan yang harus dihadapi di daerah adalah harus mengupayakan sendiri segala sesuatu dimulai dari tempat tinggal, kendaraan, dan lain-lain. Sebagai gambaran, di antara kami berlima ada yang harus mengontrak rumah sementara masih harus menghidupi istri yang sedang hamil, membeli air untuk kehidupan sehari-hari. Adapun biaya hidup di Kabupaten Sumbawa Barat cukup tinggi, sedangkan sumber pendapatan hanya gaji dari pusat sebesar Rp 1.530.000/bulan.

Setelah berupaya kepada Dinkes Kabupaten untuk menanyakan apa saja yang bisa diperoleh dari daerah, hanya mendapatkan uang sebesar Rp 450.000/bulan yang dikatakan sebagai insentif namun hingga saat ini hanya kami terima sebesar Rp. 256.500/ bulan karena daerah tidak siap menerima lima dokter PTT sehingga alokasi tiga dokter PTT dibagi kepada lima dokter. Sedangkan menurut penuturan beberapa teman yang menjalani masa PTT di daerah lain, mereka bisa mendapatkan insentif dari daerah yang cukup besar di samping berbagai fasilitas lain.

Apakah sudah cukup layak penghargaan yang selama ini kami dapatkan dari pemerintah daerah setempat, sementara kami harus selalu siap 24 jam untuk melayani masyarakat? Sebenarnya apa saja hak-hak yang bisa kami peroleh, baik dari dinkes provinsi maupun kabupaten, sebagai dokter PTT? Dan, apa yang harus disiapkan oleh sebuah daerah saat mengajukan kebutuhan dokter PTT ke pusat?
Seize E Yanuarta Puskesmas Poto Tano, KSB, Nusa Tenggara Barat

Sumber : Kompas

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.

%d bloggers like this: