Kartu GE di ATM BNI

Saya pemegang kartu GE Smart Shopping Cash (nomor: 5105 0510 2911 6xxx). Pada tanggal 9 Oktober 2008 sekitar pukul 07.00, saya melakukan penarikan uang tunai di ATM BNI Cabang Kemang Pratama, Bekasi, sebesar Rp 500.000. Penarikan uang tidak berjalan lancar, uang tidak keluar dari ATM dan di layar tertulis: ”maaf transaksi batal”.

Kemudian saya menghubungi pusat pemanggilan GE dan kantor GE di Gedung BRI Sudirman, Jakarta, yang memperoleh penjelasan, ada transaksi penarikan tetapi dalam ”posisi tagihan masih menggantung”. Menurut petugas GE, mesin masih ”bingung” antara ya dan tidak atas transaksi dimaksud. Disarankan menunggu satu sampai dua minggu untuk menghubungi pusat pemanggilan GE.

Pada hari Kamis (16/10) malam saya menghubungi pusat pemanggilan GE dan diperoleh penjelasan bahwa transaksi di ATM BNI berjalan lancar dan uang berhasil keluar. Saya protes karena uang tidak diterima dan pihak GE menyarankan untuk membuat surat pernyataan dan proses bisa sampai 45 hari. Apakah selama itu proses komplain? Padahal, sudah era komputerisasi.

Menurut petugas GE, bila setelah proses selama 45 hari dan dianggap transaksi berjalan lancar maka saya wajib membayar uang meski saya tidak menerima. Bagaimana ini? Harap hati-hati jika menggunakan ATM BNI dan uang tidak keluar.
Saman Husen Bumi Mutiara Blok JD3, Gunung Putri, Bogor

Sumber : Kompas

Nilai Klaim ACA Mengecewakan

Pada bulan Oktober 2007, saya mengasuransikan mobil (Suzuki Karimun) selama dua tahun di Asuransi Central Asia (ACA) dengan pertanggungan all risk. Waktu itu agen ACA yang memperkenalkan diri sebagai Bapak Melki (ternyata bukan nama sebenarnya—nama sebenarnya Yo- hannes) menjanjikan bahwa seluruh klaim akan cepat diatasi dan berhak mendapatkan mobil pengganti cukup dengan membayar own risk (OR) sebesar Rp 100.000.

Setahun berlalu, pada tanggal 10 September pukul 09.00 betapa kaget ketika saya mendapat laporan bahwa mobil di tempat parkir kantor dalam kondisi mesin mati setelah satu jam parkir tiba-tiba terbakar di bagian kemudi dan mengepulkan asap. Beruntung kebakaran cepat diatasi sehingga kerusakan yang terjadi dapat dilokalisasi. Kemudian secepatnya saya menghubungi ACA untuk melapor kejadian (diterima petugas bagian klaim, Bapak Sofyan).

Setelah mendengar laporan, di luar dugaan dengan sangat cepat yang bersangkutan menyimpulkan bahwa kejadian tersebut tidak termasuk risiko yang dijamin dengan alasan aus karena pemakaian. Saya bersikukuh kejadian tersebut sama sekali tidak disebabkan oleh pemakaian. Keesokan harinya (Kamis, 11/9) dianjurkan agar mobil dibawa ke bengkel yang ditunjuk ACA untuk disurvei dengan ongkos derek sebesar Rp 500.000 menjadi beban saya. Saya menolak dan meminta agar petugas ACA langsung menyurvei di tempat kejadian.

Setelah berdebat maka pada hari ketiga baru petugas survei (Bapak Suhandi) datang dan akhirnya dinyatakan bahwa klaim dapat di-cover. Namun, setelah masuk ke bengkel masalah berlanjut, yaitu surat perintah kerja (SPK) dari pihak ACA yang menjadi dasar bengkel untuk melakukan pekerjaan. Baru pada hari kesebelas (Jumat, 19/9) SPK diterbitkan yang menyebutkan harga mobil di bawah standar maka risiko diterapkan secara prorata dengan rasio 31:69. Artinya saya harus membayar 31 persen dari biaya perbaikan mobil!
HUSAIN KAMAL Jalan Ampera Raya RT 005 RW 010, Pasar Minggu, Jakarta

Sumber : Kompas

Nama Baik Dicemarkan BCA

Pada tanggal 18 September 2008, saya ditelepon BNI bahwa kredit pemilikan rumah (KPR) saya ditolak karena menurut laporan Bank Indonesia, saya punya tagihan kartu kredit macet di BCA. Dalam hal ini saya dirugikan. Padahal, saya baru terima kartu kredit BCA pada bulan Agustus 2008 (nomor pelanggan: 11308176) dan sampai saat ini belum pernah bertransaksi.

Saya cek bagian penagihan BCA dan dijelaskan bahwa tagihan tercatat Rp 806.188 akumulasi iuran tahunan dari 2006 sampai dengan sekarang plus bunga. Bagaimana bisa, saya baru terima kartu satu bulan lalu, tetapi tagihan iurannya dari tahun 2006? Sebenarnya tahun 2007 saya mengajukan kartu kredit di BCA Cabang Arjuna Tol Kebon Jeruk, Jakarta. Setelah satu minggu saya dapat tagihan ke Jalan Patra Raya Nomor 6, Duri Kepa (alamat indekos ketika kuliah), padahal saya belum terima kartunya dan belum tahu apakah pengajuan kartu kredit diterima atau tidak.

Lalu saya komplain dan BCA menyatakan, kartu sudah diantar dan sudah diterima (oleh Ibu Ratna). Pertanyaannya, Ibu Ratna itu siapa? Apakah boleh diterima selain atas nama yang tercantum di kartu? Saya minta diinvestigasi siapa kurir yang mengantar. Tanggal 3 Desember 2007, saya buat laporan sanggahan (nomor: 5076740).

Sampai saat ini belum ada penyelesaian dan tanggal 18 September 2008 saya mengirimkan berita acara komplain lewat faksimile (kepada Bapak Marta), tetapi sampai saat ini juga tidak ada respons. Manajemen BCA sungguh amburadul dan merugikan nasabah. Mohon nama baik saya yang sudah tercemar di Bank Indonesia agar dipulihkan.
JUNAIDI DAULAY Pondok Ungu Permai AM 24/2, Bekasi

Sumber : Kompas

Kerusakan Jalan di Bekasi

Jalan Raya Hankam Bekasi membentang dari Pondok Gede sampai ke Kranggan, Bekasi. Kondisi saat ini sebagian besar sudah bagus karena mulai tahun 2007 telah dilakukan perbaikan jalan dengan cara dibeton. Sebagian jalan yang belum tuntas diperbaiki pada tahun 2007 kemudian dikerjakan perbaikannya pada tahun 2008. Namun, perbaikan susulan ini dikerjakan setengah hati sehingga masih ada sebagian jalan lama yang belum diperbaiki.

Letak jalan yang kondisinya masih memprihatinkan ada di antara gardu PLN dan Gang Rambutan, Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, dengan panjang sekitar 80 meter. Kondisi jalan itu saat ini benar-benar rusak parah, yaitu sebagian besar aspalnya sudah tidak ada dan terjadi kubangan-kubangan besar yang cukup dalam, dan ini sangat membahayakan serta menyusahkan para pengendara mobil dan sepeda motor yang melintas.

Sehubungan dengan hal itu, dimohon perhatian Pemkot Bekasi untuk memperbaiki kerusakan jalan tersebut, minimal perbaikan sementara sambil menunggu turunnya dana perbaikan jalan tahun 2009.
WIYONO Kompleks Pondok Jatimurni Nomor D6, Bekasi

Sumber : Kompas

Bayar Dobel Rekening PLN

Selama bulan puasa tanggal 5-15 September 2008 berkali-kali setiap hari saya pergi ke tempat pembayaran rekening listrik, tetapi komputer tidak dapat menangkap identitas pelanggan saya. Pada tanggal 6 Oktober 2008, saya akan membayar rekening listrik PLN untuk Oktober 2008 ternyata dikejutkan oleh pernyataan petugas loket pembayaran listrik bahwa untuk September 2008 untuk dua rumah saya belum membayar.

Padahal, nyata-nyata bukti pembayaran rekening listrik untuk September 2008 ada di tangan saya. Ini jelas merugikan konsumen karena konsumen disuruh membayar dobel rekening dan dijanjikan uang akan keluar kembali dengan waktu tertentu. Yang dikhawatirkan ini akan berulang kembali untuk pembayaran rekening November 2008. Ini melelahkan harus berurusan kembali ke PLN, belum lagi membayar dobel yang berarti harus ada uang cadangan saat harga kebutuhan hidup semakin meningkat.

Kepada pihak terkait dengan masalah ini, terutama pengelola jaringan online PLN di Bandung, Jawa Barat, untuk secepatnya membenahi jaringan online agar tidak berlarut-larut. Jangan sampai merugikan dan mengecewakan konsumen yang sudah membayar tagihan listrik dengan bukti pembayaran, tetapi di data PLN belum ada dan ini merugikan konsumen listrik yang disiplin membayar tepat waktu.
SRI MULYANI Pondok Mekar Indah 1 RT 02 RW 10, Kota Baru, Karawang

Sumber : Kompas

Timbangan Buah di Giant Terbatas

Pada hari Minggu, 10 Agustus 2008 sekitar pukul 18.00, saya beserta keluarga berbelanja di Giant Botani Square, Bogor dan membeli buah yang dibagi dalam beberapa kantong. Setelah saya menimbang kantong pertama tiba-tiba datang seorang ibu langsung menaruh belanjaannya di atas timbangan dengan alasan: ”Cuma satu ini kok mas.” Saya agak kesal mendengarnya karena bagaimanapun walau hanya satu barang tetap harus antre.

Ketika saya tanya kepada pegawai Giant di bagian timbangan apakah timbangannya hanya satu? Lalu dia menjawab: ”Mesin timbangan yang satu lagi belum diperbaiki karena rusak. Kan nimbang tidak sampai lima menit.” Mendengar jawaban itu saya kecewa karena menyepelekan pelayanan terhadap konsumen. Memang benar tidak sampai lima menit, tetapi misalnya jika satu orang menimbang butuh waktu dua menit, berapa lama orang yang antre kelima harus menunggu?

Sangat tidak efisien dan buang waktu percuma karena ternyata setelah saya selesai menimbang, banyak orang yang ingin menimbang tetapi tidak antre sehingga berebutan dan tidak tertib.

Sebaiknya manajemen Giant Botani Square untuk menambah mesin timbangan yang berfungsi minimal tiga buah, apalagi saat akhir pekan. Saya melihat di cabang Giant lain jumlah timbangan untuk buah-buahan lebih dari satu. Tidak masuk akal dengan gerai buah dan sayuran yang begitu luas hanya tersedia satu timbangan yang berfungsi.
REISAN ADHI Y Jalan Harapan Nomor 8, Kedung Badak Baru, Bogor

Sumber : Kompas

Speedy Merdeka Mengecewakan

Beberapa waktu lalu saya mendapat tawaran menarik dari Telkom Solo untuk memasang internet Speedy dengan nama Paket Merdeka yang berlaku sampai dengan 30 September 2008, dengan keistimewaan, antara lain modem gratis dan biaya per bulan yang jauh lebih murah.

Setelah saya setuju, lalu mengirim utusan ke rumah saya untuk pendaftaran dan penandatanganan kontrak tertanggal 26 September 2008. Dijelaskan bahwa sehari setelah penandatanganan kontrak modem bisa diterima dan internet bisa digunakan. Kenyataannya sehari setelah tanda tangan kontrak utusan Telkom tidak datang dan tidak mengonfirmasikan.

Beberapa kali saya mencoba menelepon, tetapi tidak pernah diangkat. Setelah saya datang ke Plaza Telkom untuk konfirmasi, berkas yang sudah saya tandatangani baru dimasukkan ke komputer tanggal 4 Oktober 2008 sehingga program Paket Merdeka telah selesai masa berlakunya.

Padahal, penandatanganan kontrak saya tanggal 26 September 2008 dan pihak Telkom hanya bisa mengatakan bahwa utusannya terlambat memasukkan berkas dan menawarkan paket lain yang lebih mahal. Sebagai calon pelanggan Speedy sangat kecewa dengan Telkom Solo yang tidak profesional dalam bekerja. Saya membatalkan untuk berlangganan Speedy dengan penuh kecewa.
ANDRE Jalan Adi Sucipto RT 03 RW 07, Surakarta

Sumber : Kompas

Ban Nissan Grand Livina

Saya membeli mobil Nissan Grand Livina bulan November 2007 (nomor polisi B 7818 HI) dan selalu mengikuti petunjuk servis. Mobil hanya dipakai di jalan aspal yang hampir seluruhnya mulus di dalam kota Jakarta dan ke Bandung lewat tol dan tak pernah ada keluhan. Pengecekan dan servis selalu dilakukan sesuai petunjuk Nissan Sunter, Jakarta Utara.

Tanggal 22 Agustus 2008 sore mobil dipakai jalan jauh ke Jawa Tengah dengan penumpang empat orang dan di Tol Cikampek Kilometer 39 ban disiapkan dengan tekanan 34 sesuai petunjuk. Keluar tol Kanci menuju Losari di Pantura yang mulus tiba-tiba ban kempes. Saya melakukan penggantian dengan ban cadangan asli dan baru dari Nissan Livina. Antara Brebes dan Purwokerto saya mengupayakan perbaikan ban yang kempes untuk jadi ban cadangan karena perjalanan malam hari.

Ternyata saat diperiksa oleh tukang ban, penyebab ban kempes adalah garis retak/sobekan di posisi lengkungan yang tidak mungkin ditambal tubeless. Tidak ditemukan paku. Dalam keadaan darurat terpaksa ban ditambal dengan cara lama seperti menambal ban sepeda dari bagian dalam. Setelah penambalan ban berhasil angin diisi sampai tekanan 34 sesuai petunjuk. Ban yang bermasalah dilaporkan ke Nissan, tetapi setelah beberapa hari pihak bengkel Nissan (Bapak Ismail dan Bapak Ade) mengembalikan ban dengan menjelaskan tidak dapat diklaim karena sudah ditambal.
BILIATER SINAGA Taman Berdikari Sentosa Blok K-22, Pulo Gadung, Jakarta

Sumber : Kompas

Letih dengan Danamon Access

Saya pemegang MU Card Bank Danamon yang mempunyai permasalahan tagihan sejak bulan April 2008. Sudah menghubungi Danamon Access Center lebih dari 15 kali setelah pulsa saya tersedot ratusan ribu rupiah baru ada tanggapan positif dari pihak Danamon. Petugas terakhir yang menghubungi saya (Bapak Arman) yang mengatakan, semua kesalahan transaksi saya akan dikoreksi dan akan muncul pada tagihan bulan September 2008.

Pada tanggal 1 September 2008, saya kembali mempero- leh >small 2<sms >small 0<tentang pembayaran yang belum diterima dan ini saya abaikan karena tagihan sudah dibayar penuh. Tetapi, ternyata lembar tagihan yang saya terima (23 September 2008) hanya ada koreksi biaya keterlambatan dan biaya bunga, sedangkan transaksi cicilan money trans ke-1 (tagihan April 2008) masih muncul sehingga ada lagi tagihan biaya keterlambatan dan bunga.

Bagaimana ini, terus terang saya sudah letih menghubungi Danamon Access Center karena sulit tersambung dan jika berhasil pasti disuruh menunggu lama yang akhirnya terputus? Begitu berulang-ulang sehingga pulsa telepon hilang percuma. Sebagai nasabah kecewa karena jika terjadi masalah untuk mengurus sangat sulit.
PUJI RAHAYU Jalan Veteran Nomor 151, Umbulharjo, Yogyakarta

Sumber : Kompas

Hati-hati Belanja Barang Lewat ”Online”

Rabu, 22 Oktober 2008 | 00:30 WIB

Secara kebetulan saya membaca iklan dari elyudien@yahoo.com yang menawarkan macam-macam barang elektronik untuk pemesanan secara online. Saya berminat membeli satu unit Canon Personal Photo Printer (tipe Selphy 750) yang dicantumkan harga Rp 945.000, termasuk 200 helai kertas foto (tipe KP108—include ribbon).

Saya konfirmasi via telepon untuk menanyakan biaya kirim ke Purwokerto, Jawa Tengah. Jawaban Elyudien yang katanya beralamat di Tebet, Jakarta, bahwa harga barang termasuk ongkos kirim via TikiJNE ditambah asuransi yang jumlah keseluruhan Rp 1.225.000. Tanggal 23 September 2008, saya transfer ke rekening BCA Elyudien sesuai yang diinstruksikan via telepon sejumlah Rp 1.225.000.

Segera saya konfirmasi ulang bahwa uang sudah ditransfer untuk membayar satu unit printer berikut 200 helai kertas foto (KP108) sesuai yang diiklankan. Dijawab bahwa barang pesanan dimaksud akan dikirim lengkap hari itu juga (23/9) via TikiJNE. Tanggal 27 September 2008, kiriman paket datang dan ketika saya cek ternyata kertas foto (KP108) hanya 100 lembar (1 boks). Segera saya telepon untuk menanyakan kekurangan kiriman dan jawabnya: ”Memang kertas fotonya sekarang cuma dikasih 100 lembar sesuai iklan terbaru kami di blog. Bapak bacanya di internet iklan tanggal berapa?”

Karena penasaran, saya cari lagi iklan Elyudien di blog dan ternyata iklan yang saya baca itu masih baru, yaitu baru saja di update hari Minggu, 3 Agustus 2008. Dan itu iklan satu-satunya yang sampai saat ini masih ditayangkan, yang mencantumkan ”termasuk 200 lembar kertas foto KP108.” Berarti Elyudien tidak jujur karena ketika mau pesan sudah saya tandaskan via telepon bahwa harga tersebut sudah komplet termasuk 200 lembar kertas foto, dan tidak disangkal. Waspadai pesan barang lewat online.
ARY TANDY Jalan Perintis Kemerdekaan 22, Purwokerto, Jawa Tengah

Sumber : Kompas

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.